Category Archives: Religion

Tentang Sedekah

*nyapu-nyapu blog, udah lama ditinggal empunya*

Apa kabar saudara-saudara? Jadi kagok karena kelamaan nggak nulis. Jadi kali ini saya akan membagikan cerita tentang sedekah.

Untuk yang punya twitter dan follow ustad atau orang-orang yang terus menyebarkan tentang sedekah dan manfaatnya, pasti sudah sering membaca kredo

Belilah kesusahan dan mimpimu dengan sedekah

Yang belum follow @yusuf_mansur, @aagym dan @muhammadassad mari di follow. Mendekatlah dengan hal yang positif, agar ketularan juga :)

Jadi ceritanya sejak pertengahan februari, kerjaan di kantor mulai mengular antriannya mirip antrian di depan loket KA yang tidak kunjung dibuka; banyak dan tidak habis-habis. Sampai-sampai saya “cuti” dari dunia per YM an, dan teman saya menanyakan keberadaan saya :D .

Sebenarnya kalau pekerjaan banyak dan lingkungan kerja kondusif secara terus menerus sih tidak ada masalah. Namun namanya juga manusia, beda kepala beda isi hati, tekanan pekerjaan juga bisa mempengaruhi emosi, akhirnya muncul juga yang namanya “gesekan-gesekan” yang sungguh tidak mengenakkan karena menguras pikiran dan emosi tentunya. Menguras air mata juga? Pasti! *eh curcol* *fokus-fokus* Continue reading

49 Days

Ini adalah 20 episode serial drama korea yang saya lihat weekend kemarin. Sekilas drama ini tidak ada bedanya dengan serial drama korea yang lainnya: stylish, fashionable, nice setting places, nice soundtrack etc. Awalnya saya kecewa sih karena aktornya tidak setampan Lee Min Ho, tapi saya tetap menonton karena penasaran akan ceritanya.

Serial ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Ji Hyun yang memiliki kehidupan 9/10, seems perfect: orang tua yang menyayangi dia, cantik, materi berkecukupan, calon suami yang keren dan mencintainya, she has the dream world. Dia pewaris tunggal perusahaan orang tuanya. Sang calon suami, Kang Min Ho, looks like a hard to find guy dan akan menjadi pimpinan perusahaan orang tua Ji Hyun setelah mereka menikah.

Namun sayang beberapa hari sebelum pernikahannya, Ji Hyun mengalami kecelakaan mobil beruntun akibat ada Song Yi Kyung, seorang perempuan yang ingin bunuh diri dengan menyeberangi jalan dan berusaha menabrakkan dirinya pada truk yang melintas. Song Yi Kyung berhasil diselamatkan oleh dokter yang selama ini memang memberikan perhatian kepadanya, namun sayang ruh Ji Hyun lepas dari jiwanya yang menyebabkan dia berada dalam keadaan koma.

Ji Hyun bertemu scheduler, sosok yang digambarkan sebagai pihak yang memastikan bahwa orang-orang mati pada waktu dan saat yang telah ditentukan oleh schedule takdir. Ji Hyun diberikan waktu 49 hari oleh scheduler untuk mengumpulkan 3 air mata dari orang-orang yang tulus mencintainya, selain mereka yang memiliki ikatan keluarga, untuk bisa hidup kembali. Sementara sang scheduler sendiri meninggal pada usia 23 tahun dan voluntary menjadi scheduler agar bisa mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan urusan dunianya yang belum terselesaikan ketika dia meninggal. Ringkasan cerita bisa dibaca di sini.

Drama ini membuat saya berfikir, what if I were in Ji Hyun’s position.

Saya tidak pernah tahu kapan saya akan mati, saya juga tidak tahu apakah akan ada yang menangisi saya dengan tulus jika saya sedang koma. Respon orang ketika saya mengalami musibah atau mungkin dalam keadaan koma/mati sebenarnya menjadi pembuktian whether I have lived well or not, how deep I left my footprints or how much I was coloring their life.

Saya jadi menyadari kalau saya banyak menyia-nyiakan waktu, menggunakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan mengaburkan fokus saya atas apa yang seharusnya saya lakukan di dunia. Saya juga jarang atau kurang show my feeling for my family and people around me about how I love them and thankful for having them in my life. Hal-hal yang terlihat sepele dan feeble (atau istilah kerennya menye-menye) yang biasanya justru menyesakkan ketika saya menyadari bahwa saya belum menyampaikan dan melakukannya, selain ibadah dan bekal untuk hari penghakiman kelak tentunya.

Mungkin dengan membayangkan dengan berada pada akhir batas waktu kita hidup di dunia and we take a look back what we’ve done bisa menjadi cermin tentang what should we do and how to live this life well. Setelah menonton 49 days saya juga jadi lebih berhati-hati menyeberangi jalan dan berharap punya Han Kang.

Have a good life, pals.

Trouble is… A Gift

Nowadays, blogging time is such a precious time for me. I can’t tell how I miss to make a fiction story, or bring something here out of my brain. I miss to write until late at night, only to satisfy myself. Maybe this is my another random post because I have things on my mind.

I was a pessimist person, first I was in trouble I would cry and complain. I thought much, and I needed someone to be right beside me and said “everything will be okay, no matter what I’ll be here”. I bothered people around me, and I wasn’t a nice person, I wasn’t tough and I didn’t have a strong woman material. Until someday I realized, I couldn’t be the same person. I start doing things that I might not do in the past.

Continue reading

Bring The Words, Get The Blessing

Ya udahlah pakai bahasa ibu saja menulisnya, walaupun judulnya pakai bahasa mertua *ngarep to the MAX* *namanya juga usaha* :p.

Karena ini masih awal Ramadhan, dan pastinya semangat untuk mengisi Ramadhan dengan hal-hal baik masih hangat seperti baru dikeluarkan dari oven, saya jadi berfikir mengenai beberapa hal yang mungkin sederhana tapi bisa digunakan sebagai sedikit dari sedemikian banyak cara untuk meraih berkah Ramadhan di samping ibadah wajib.

Saya teringat pembicaraan dengan Rizka sebelum dia berangkat umroh beberapa bulan lalu tentang titipan doa saya dan teman-teman. Intinya sih doa akan lebih ijabah kalau kita ikhlas mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Apapun yang dasarnya ikhlas, pasti jatuhnya akan lebih baik bukan? Nah, tanpa harus diminta kita bisa mulai mendoakan orang-orang di sekitar kita; keluarga, teman, rekan kerja dll. Bisa doa secara spesifik kalau kita tahu apa yang mereka inginkan, atau secara global dengan meminta ke Allah untuk mengabulkan doa mereka.

Kalau ada keinginan-keinginan kita yang diijabah Allah, jangan keburu girang dan besar kepala dulu. Mungkin saja itu bukan hasil dari doa kita, mungkin saja doa kita masih nyangkut dan belum sampai di langit karena perbuatan yang kita kerjakan, tapi keinginan yang jadi nyata tadi adalah hasil dari doa orang lain yang lebih di dengar Allah :) . Sebenarnya dengan mendoakan orang lain, kita belajar untuk turut senang dengan kebahagiaan yang mereka miliki, selain berpahala tentunya.

Selain mendoakan orang lain, pasti sudah pada tahu keutamaan menyayangi anak yatim dan bersedekah bukan? Kalau belum, google siap membantu hehe. Nah bagaimana kalau dikombinasikan keduanya? Saya yakin teman-teman pasti banyak yang ingin bersedekah, hanya sering bingung mau disumbangkan ke mana. Di depan kos saya ada Panti Asuhan Nusantara yang mengasuh anak yatim. Bagi yang ingin bersedekah, di website nya tercantum nomor rekening dari panti tsb.

Hal simple lain yang bisa dilakukan adalah stop complaining, errr.. atau kurangilah mengeluh. Saya merasa sangat terganggu apabila mendengar orang mengeluh. Jangankan mengeluh secara terang-terangan, menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan borongan juga menimbulkan efek negatif secara psikologis pada orang di sekitarnya, IMHO. Ketika saya sudah tidak bisa menahan diri ingin mengeluh, sementara saya tidak sedang sendirian, saya kadang meminta maaf dan memberi tahu terlebih dahulu “maaf ya aku mau ngeluh sebentar”. Hal negatif itu cepat menular, jadi lebih baik kita tidak menjadi sumber virusnya.

The beauty of a view depends on the position where we stand.

Di hal-hal yang kurang menyenangkan sekalipun, ketika kita memilih untuk mempercayai there are messages behind them or lesson learned maka yang tadinya musibah malah akan menjadi berkah. Tuhan adalah seperti apa yang dipikirkan hambaNya, jadi berbaiksangkalah pada rencana-rencanaNya :) .

Maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan kasihNya kepada kita.

Mungkin badan saya sedang panas sehingga saya menulis postingan spt ini.

Welcoming Ramadhan 1432 H

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan all, semoga kita bisa memanfaatkan Ramadhan ini semaksimal mungkin. Iya saya tau, udah rada telat sih tapi kan masih awal Ramadhan juga :p *ngeyel*.

Tahun ini adalah Ramadhan pertama saya di Jakarta setelah tiga Ramadhan sebelumnya saya habiskan di Cikarang. Banyak yang berbeda memang: tempat kerja, teman, lingkungan, suasana dsb. Mana yang lebih enak? Semua ada tempatnya masing-masing :) . Somehow I wonder, what would happen if I didn’t take the chance to move here. Oh iya, keluarga kami juga kedatangan member baru, kenalkan faeyza keponakan yang paling saya cinta (belum ada tandingannya sih:p).

Pengen nggigit aja kalo liat dia

Ngomong-ngomong soal Ramadhan, tiga hari kemarin saya sholat tarawih di tiga tempat berbeda demi mendapatkan tempat yang GTP (Great Tarawih Place) *maksa*. Pertama, di masjid dekat kos: bacaan sholatnya oke, rakaat oke, cuma sayang banyak anak kecilnya yang bikin berisik. Hari kedua di Istiqlal, dengan pertimbangan selemparan batu dari kantor. Tapi ternyata kondisi aktualnya tidak seperti yang diharapkan. Hari ketiga, saya ke masjid yang agak jauhan. Sayang sekali, di sana lebih mirip SKJ daripada sholat jamaah. Dan hari ini saya kembali ke masjid pertama, subhanallah bacaan imamnya merduuuuu banget sampai berhasil membuat saya berkaca-kaca dan ibu di sebelah saya menangis.

Di sini selama bulan puasa saya bisa pulang mulai jam 15.30, jadi pekerjaan harus diselesaikan sebelumnya biar bisa buka puasa di kos. Macet? Jangan ditanya. Tapi so far sampai di Kuningan sekitar jam 5 sore, not too bad :) .

Hal yang bikin puasa tidak terasa ketika di kantor adalah pekerjaan dan rekan kerja yang rada-rada kurang waras kocaknya minta ampun. Yang menyenangkan juga adalah setiap hari mulai jam 11.30 ada tausiah dari ustad yang berbeda-beda dan sholat dzuhur berjamaah. Hari ini yang datang adalah Ust. Ahmad al Habsyi (semoga saya tidak salah menulis namanya).

Tadi ustad bilang, malaikat Jibril berdoa yang diamini oleh orang yang paling dicintai Allah: nabi Muhammad SAW. Salah satu dari ketiga doa malaikat adalah agar Allah melaknat orang-orang yang membiarkan bulan Ramadhan terlewat begitu saja. Bisa dibayangkan ijabahnya doa ini. Semoga saya dan kalian semua tidak termasuk di dalamnya. Semoga hati kita dimudahkan untuk menerima tausiah-tausiah dan tuntunan pada kebaikan, karena di bulan ini Allah sedang mengobral besar-besaran pahalaNya. Semoga kita tidak termasuk orang yang memajukan shaf jamaah tarawih di masjid ketika menjelang lebaran. Semoga kita bersemangat dalam berlomba untuk mendapatkan berkah Ramadhan.

Semoga saya dan Anda bisa menyambut Idul Fitri dengan penuh suka cita atas apa yang kita kerjakan selama Ramadhan :) . Amin.

See ya on the next post :*.

Some Kind of Miracles (Then Which of The Favours of Your Lord Will You Deny?)

I never know if things that happened in several days ago were related or not, but I am a believer that something happens for reasons and causality does exist. My expectation by writing this is maybe one or two readers can learn something, including me :) .

So, someone did something that unrelated with me at all, but somehow it bothered me. In my mind at the time “why are you trying so hard to look cool?”. I told my close friends about this, because it was hard to keep that thing for myself.

Didn’t take a long time, I realized that I was wrong by saying that thing (even though the person didn’t know bout this) and I felt terribly guilty. I didn’t know what to do to make my guilty feeling less. So I went to mushola and prayed, but it didn’t enough to make me feel better. I kept thinking, what should I do?

I promised to myself I won’t do the same thing, or at least I will try to be nicer person. Lesson learned, guilty feeling tortures me well. Several minutes later, I decided to make an alms by sending some money. Case closed and I hoped nothing but forgiveness.

On the next days, I was busy: be a trainer assistant (to help the user) and went to subsidiary. Out of my plan and expectation, I was paid. And the nominal? Nearly close with ten times of the money that I transfered as an alms. Actually, I got more than 10 times because I got free meals and lunch for a week.

“Then which of the favours of your Lord will ye deny?”, I did mistake and He gives me blessing.

Continue reading

One Day Before I Die

Beberapa hari yang lalu, ketika aku ketiduran setelah nyicil belajar untuk ujian sabtu, suddenly I dreamt. In the same room, I was alone, dan cuaca di luar terlihat cerah karena sinar matahari masuk melalui kerai yang dipasang di pintu dan jendela kamar ini.

Dan aku mendengar entah bisikan entah sesuatu seperti keyakinan yang keluar dari dalam hatiku, seseorang berkata bahwa aku akan mati keesokan harinya. Hal yang aku  lakukan saat itu hanyalah berdiri terdiam, menyesal, sadar.

Aku diam karna aku tau waktuku tidak banyak, sementara masih banyak hal yang ingin, belum aku lakukan, belum aku selesaikan. Aku menyesal karena telah membuang banyak waktu untuk melakukan hal yang tidak jelas gunanya, hal yang bisa jadi mendatangkan banyak mudharat ketimbang manfaat, lidah yang lalai dari menjaga, hati yang kerap ingkar, pikiran yang sering melintas dari koridornya. Aku sering menyelingkuhi Tuhanku, memangkas habis waktu keberduaan kami. Lalu pintu mana yang harus aku ketuk? Kasih siapa yang harus aku rengkuh?

Dan aku sadar, dunia hanyalah warung kopi semata.

Jika

Ya Rabb, jika kehidupan ini adalah luasnya samudra
janganlah Kau menaruhku pada rakit tua
yang tak memiliki daya untuk
bertahan di tengah gelombangnya
yang tak berlayar besar untuk menahan
angin yang tiada bisa tertebak arah datangnya.

Ya Rabb, jika kehidupan ini adalah luasnya samudra
jangan biarkan aku melewati
tiap riak, tenang, dan badai
tanpa ada rasa bijak atasnya.

Ya Rabb, jika kehidupan ini adalah luasnya samudra
dan bekal yang tersisa hanya usia
pasca tahunan aku mengayuh
aku bertahan
aku melihat belai dan murka dunia
jangan biarkan jangkarku
mengakar pada tanah yang salah.

Ya Rabb, jika kehidupan ini adalah luasnya samudra
berilah aku selalu keyakinan
tujuanku berlabuh, ridhaMu
dermagaku adalah pintu cinta dan maafMu
jauh dari digdaya kesemuan dunia.

Resignation

I’m not talking about my job, I want to talk about my experience.

I thought back about my journey in the pass. I believe that everyone has their own tough time, the hard part to deal with. I’m a person who good in giving encouragement for myself, but I also had several hard times when I felt tired about something. When I did much to make things right but everything seemed wrong, when I walked so far and my skin burned by the sun but I felt further away from my direction and met a stalemate, they just led me to  emptiness, despair.

The best thing that I’ve ever done was surrender. God is the best place to ask, to go back, to rely on, everything.

Many times I asked to myself, since I’m not a devout and religious person, the one who cross line often, will God listen to my prayer? Will Him help me and give me way out?

And I realized, I did something wrong.

God is like what we think about Him..

So when I meet tough time, I’ll come to Him and make an honest confession,

God, I know I’m not a devout one. I’m not the one who always think about You. I’m the one who often broke Your rules. But I don’t have better place than You. Here I’m, asking for help, Your affection. I just want to say something, I’m surrendering. Please forgive me for every bad thing I’ve done. There’s nothing I can do here to make things better than surrender to You.

Soon after that I’ll feel better, my burden is reduced.

Sometimes confession about my limitations as a human being, when the reality does not go as planned even though I’ve tried so hard to keep it on the line, gives me the best solution: surrender, resignation.

Pahitnya Kopi yang Membawaku Pulang

Hanya cerita pendek yang terinspirasi dari sebuah percakapan.

Panasnya jalanan Jakarta siang itu terasa kontras dengan sejuknya udara di dalam salah satu mall yang berada di dekat tempatku menunggu bis Bekasi. Sambil meminum iced coffee yang  aku beli dari sebuah kedai kopi ternama, aku berdiri di bawah terik matahari dengan balutan asap berbagai kendaraan pribadi sampai metro mini.

Aku menghela nafas. Entah tanda kecewa atas carut marutnya tata ruang ibukota atau karena bis yang tak kunjung datang. Atau mungkin karena keduanya. Bisa jadi.

Di depanku berdiri seorang lelaki paruh baya, kulit hitamnya seakan menandakan bahwa dia berteman baik dengan matahari siang di Jakarta. Di tangannya ada beberapa buku tipis dengan sampul berwarna cerah. Kamus bahasa inggris bergambar rupanya. Aku mengetahuinya setelah mencuri pandang ke arah sampul buku yang dibawa lelaki itu.

“hmmmhh, susahnya cari duit jaman sekarang. Cepet kiamat ajalah ya Tuhan kalo kayak gini.. “, keluhnya.

Aku mengrenyitkan dahi seketika, “doa macam apa itu ? “ gerutuku dalam hati.

Dia menghitung uang yang diambil dari saku kaosnya yang bergambar salah satu caleg dari partai besar. Sepertinya itulah uang yang diperoleh lelaki itu sejak pagi hingga menjelang sore ini. Dalam hati aku ikut menghitung, karena tidak banyak lembaran lima ribuan yang dia miliki.

Aku tercekat.

Kopi yang daritadi aku bawa dan aku minum, bagaikan obat dehidrasi yang sangat mujarab, seketika berubah menjadi cairan getir dan pahit yang meracuni hatiku bak Klorokuin dan Primakuin untuk penderita malaria. Aku merasa bersalah pada lelaki setengah baya itu. Aku kehilangan nafsu untuk menghabiskan sisa iced coffee ku tadi yang masih setengah gelas.

Betapa tidak, uang yang dia cari dengan susah payah hanya sepertiga dari harga segelas es kopi yang harus aku bayar. Aku merasa berdosa. Merasa dibodohi nafsu sendiri. Andai saja aku lebih bijak, uang yang aku belikan es kopi tadi bisa aku berikan padanya. Mungkin tidak kurang dari 30 bungkus mie instan bisa diberikan pada anak-anaknya untuk makan selama beberapa hari. Atau bisa ditukarkan dengan 8 kg beras kualitas biasa beserta ikan asin. Aku merasa begitu egois.

Bis yang aku tunggu telah datang. Aku segera naik dan memilih bangku yang berada di dekat jendela. AC yang ada di dalam bis memberikan kesejukan setelah setengah jam aku berdiri menunggunya bersama panas matahari Jakarta.

Pikiranku memutar kembali kejadian sekitar dua tahun lalu, sebelum aku mendapatkan pekerjaanku yang sekarang. Di masa aku menjalani hari-hari bersahabat dengan terik matahari Surabaya, sembari membawa beberapa sample produk. Aku pernah bekerja sebagai seorang sales panci.

Berjalan menyusuri trotoar, masuk dari satu perumahan ke perumahan lain dengan harapan ada dua panci atau lebih yang terjual setiap hari. Tidak mudah memang. Tak jarang betisku yang sudah kaku karena berjalan mulai pagi sampai magrib tak menemui hasil yang sepadan, bahkan hanya untuk membeli counterpain pun tak cukup.

Sampai akhirnya aku diberi tahu seorang teman bahwa perusahaan tempatku bekerja sekarang sedang membuka lowongan. Kebetulan aku memenuhi kualifikasi yang diajukan. Setelah menunggu selama tidak kurang dari 2 bulan, akhirnya aku mendapatkan kabar gembira. Aku diterima dan akan pindah ke Bekasi.

Keluargaku juga menyambut gembira. Perjuangan ayahku yang hanya seorang petani, dan ibuku yang berjualan batik keliling membuahkan hasil. Kaki ibu pun harus dikorbankan untuk bisa membantu ayah membiayai sekolah sarjanaku dan dua orang adikku. Tulang kaki kanan ibu meradang karena kelelahan dan kurang kalsium, sehingga sekarang ibu sulit untuk berjalan.

Pada hari kepergianku, aku melihat air mata kedua orang tuaku. Aku mengartikannya sebagai air mata bahagia sekaligus kecemasan. Sebagai anak perempuan tertua dan satu-satunya, aku harus pergi jauh dari mereka dan pindah ke kota yang entah bagaimana lingkungan keagamaan dan sosialnya. Berita di tv tentang pembunuhan, pemerkosaan dan narkoba semakin membuat hati mereka berat untuk mengantarkan kepergianku.

Tak banyak pesan dari mereka. Ayah hanya berbisik “jaga iman, nak”, ibu berpesan “jangan lupa sholat ya nduk” ketika kami berada di stasiun Gubeng. Sementara kedua adik lelakiku sambil berkaca-kaca, mengingat mereka tak pernah berpisah jauh dariku, berkata “kalo lebaran jangan lupa pulang ya mbak”. Harapan yang sederhana, pikirku saat itu.

Aku menegakkan posisi dudukku dan mengambil uang untuk membayar bis. Tak terasa dua tahun sudah aku jauh dari mereka, keluargaku. Pesan-pesan sederhana itu ternyata tak semudah yang aku kira, iman dan sholat.

Entah berapa lama aku meninggalkan sholat dhuha, apalagi tahajjud. Tenagaku sudah hampir habis untuk bekerja yang sering kali baru pulang setelah jam 7 malam, dan rasa kantuk yang tak tertahankan saat membaca buku di kamar. Jangankan tahajjud, isya pun kadang terlewatkan begitu saja karena sering dikalahkan oleh acara tv atau browsing internet.

Istighfarku dalam hati. Pernah aku merasakan kedamaian itu, uang yang tak berjumlah jutaan pun rasanya cukup dan penuh berkah. Saat di mana aku rajin beribadah wajib dan menambahkan 4 rakaat dhuha dan 4 rakaat di sepertiga malam.

Entah apa kesibukanku selama ini, dhuha terlewat begitu saja. Ku cukupkan hanya pada sholat wajib, itupun di akhir waktu sholat dengan dalih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.

Buliran air yang terasa hangat mulai membasahi pipiku. Aku membasuhnya segera dengan tissue karena tak ingin menarik perhatian penumpang lain. Pilu. Ada ketakutan dan kekecewaan pada diri sendiri. Ketakutan akan apa yang bisa menjadi bekalku ketika jasad ini tak lagi bernyawa. Kekecewaan akan waktu yang telah aku sia-siakan begitu saja, uang yang aku belanjakan yang hanya untuk kepuasan diri yang tak ada habisnya.

Tuhan, aku berdosa padaMu, aku mendzolimi hambaMu. Luruskan jalanku sekiranya aku tak lagi lurus, ingatkan aku sekiranya aku sedang lupa, rengkuh aku sekiranya aku berlari terlalu jauh, putarkan kembali gambar wajah ayah ibu dan pesan mereka ketika aku salah arah. Mungkin kejadian kopi dan lelaki paruh baya tadi adalah salah satu caraMu untuk mengingatkanku.

Ku buang gelas plastik kemasan kopi tadi sesampainya aku di rumah. Pahit manis rasa iced coffee begitu cepat hilang dari lidah, bahkan sebelum aku menemukan tempat sampah. Namun tidak demikian halnya dengan getir yang tersisa dan mengendap.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 237 other followers