Category Archives: My Life

Some Notes from 2012

After re-read my posting from 2012, I’d like to remind myself with few notes about things I believe in, have passed, and maybe can be reminder how to face the life through the good and not-so-good times.

  1. Life is a choice. Remembering what we want to be, for me, is the best way to make us realize that we still have unfinished business to be done.
  2. Be thankful for the rushes you get in office. Because of it, you won’t be busy to think what will you do there.
  3. Be professional: make a clear line between personal and professional matters.
  4. Buy your difficulties by giving.
  5. Don’t hold your anger because it can burn your heart inside.
  6. If you can’t be an oasis in the desert, then don’t be quicksand.
  7. Visiting the past doesn’t mean you can’t deal with the present. But by learning histories, you can walk better in the future.
  8. When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. – Paulo Coelho
  9. No matter how great and successful you are nowadays, you can’t make it without kindness of your parents because gave you a proper education and living.
  10. Live as well as you want to be remembered when you die.
  11. Sometimes the right path is not always the easiest one.
  12. Go confidently in the direction of your dreams. Live the life you’ve imagined. – Thoreau
  13. Chances favor the prepared mind. – Louis Pasteur
  14. We can be something or nothing, it depends on our decision. If you think you are nothing for your family, your society, your company, your country, then you are right.

And here for the addition notes to make us richer :) .

1520931

I am thankful to you guys who spent your time here and read my mumbles. Have a good life afterwards ..

The pic taken from here.

Berangkat Pagi, Hemat Energi!

Tahukah kamu kalau Indonesia akhirnya memutuskan keluar dari OPEC (Organization of The Petroleum Exporting Countries) pada tahun 2008, setelah bergabung sejak 1962, karena resmi menjadi net importer minyak? Berdasarkan data dari BPPT dalam Outlook Energi Indonesia 2011, proyeksi laju produksi minyak mentah Indonesia menurun rata-rata sebesar 6.6% per tahun dari 346 juta barel pada tahun 2009 menjadi 265 juta barel pada 2014, sementara pertumbuhan tahunan rata-rata atas permintaan BBM menurut Indonesia Energy Outlook 2010 adalah 5.4%. Dengan data-data tersebut, diperkirakan pada tahun 2027, Indonesia menjadi net energy importer dikarenakan pesatnya kenaikan permintaan energi.

Peningkatan permintaan atas energi adalah dampak dari pertumbuhan dan mobilitas penduduk, serta industri yang menjadi bagian dari fenomena negara berkembang. Penduduk yang mengalami kenaikan taraf hidup akan melakukan konsumsi energi yang lebih besar daripada sebelumnya, dikarenakan telah memiliki kemampuan untuk membeli alat transportasi ataupun elektronik yang tadinya tidak terbeli. Mobil, motor, tv, komputer, ac, kompor, hp adalah sebagian contoh dari barang sehari-hari yang ada di sekeliling kita dan memerlukan energi.

Bisa membayangkan bagaimana jika negara kita mengalami krisis energi?

BBM yang langka bisa memicu konflik (seperti yang sering kita lihat di berita-berita ketika terjadi kelangkaan BBM di beberapa daerah maka akan terjadi antrian panjang yang tak jarang berujung pada aksi demo), kereta yang tidak terpenuhi energi listriknya tidak dapat beroperasi, rumah dan kantor-kantor akan gelap dan tidak bisa beraktivitas karena ketiadaan listrik, tidak dapat memasak kecuali menggunakan kayu bakar, tidak ada lampu di malam hari, hp yang lowbat tidak dapat di recharge, jalur komunikasi terputus dan segala keadaan tadi akan menimbulkan kerusuhan yang membahayakan stabilitas negara serta kelangsungan hidup kita sendiri. Seringkali kita menganggap remeh atas apa yang mudah kita temukan sehari-hari, padahal hal tersebut sangat krusial dan kita akan “lumpuh” tanpa kehadirannya: energi.

Nah, sebenarnya kita sangat bisa turut berpartisipasi untuk menghambat laju konsumsi energi. Ingat: every small act counts dan semuanya berawal dari diri sendiri! Para pengguna kereta atau lebih sering disebut roker (rombongan kereta), saya termasuk di dalamnya, dan pengguna sarana transportasi publik adalah mereka yang turut serta melakukan penghematan konsumsi BBM. Diperkirakan dalam sehari Commuter Line (CL) mengangkut 400.000 penumpang. Bagaimana jika penumpang CL ini memutuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi? Selain macet, maka polusi dan konsumsi BBM juga pasti meningkat drastis!

Tidak bisa dipungkiri jika sarana transportasi publik di Indonesia masih perlu melakukan banyak perbaikan. Namun demikian, bukan menjadi alasan bagi kita untuk tidak andil dalam menghemat energi. “Kalau naik kereta pasti desak-desakan”, pasti sering kan mendengar komentar seperti itu? Dengan berangkat lebih pagi sebenarnya dapat dikatakan “sekali dayung dua pulau terlampaui”, semakin pagi kita meninggalkan kamar/rumah, maka konsumsi energi di rumah juga menurun karena kita mematikan lampu dan alat elektronik lainnya lebih awal. Selain itu, kereta dan transportasi publik lainnya juga pasti lebih lengang jika kita berangkat lebih pagi :) .

Kalau kata Mahatma Gandhi sih

Be the change you want to see in the world”.

Mari menjadi agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. Kurangi konsumsi energi, kurangi beban negara!

*Gambar diambil dari kenney-mencher.blogspot.com

September 2012 dan Kehidupan Baru

Ternyata saya sudah melewatkan beberapa bulan tanpa meninggalkan jejak cerita di sini :D #lebay. Sebenarnya postingan itu berguna bagi saya ketika menoleh ke belakang, melihat lagi apa saja hal yang pernah saya lakukan pada bulan dan tahun tertentu. Footprints gitu ceritanya :) .

Awal bulan September tahun 2012 ini menjadi milestone yang penting bagi saya: meninggalkan comfort zone. Rutinitas yang tadinya berangkat mandi setengah enam pagi (atau lebih), ke kantor dekat, pulang kerja bisa seenaknya saja mau ngapain, weekend bisa main dengan teman-teman dan masih banyak lagi privilege dengan after office hours yang saya miliki.

Pindah ke Depok dan kuliah (seperti yang saya ceritakan di sini) berarti harus mengubah pola hidup, jauh berbeda dari sebelumnya. Saya mulai membiasakan diri untuk bangun setidak-tidaknya jam empat pagi (bisa jadi ke depannya lebih pagi lagi untuk mengerjakan tugas). Kemudian keluar dari kosan jam enam kurang untuk menuju ke stasiun. Seringanya sih bukan jalan ke stasiun, tapi jalan cepat setengah lari karna takut ketinggalan kereta :p.

Masalah belum selesai sampai di situ. Kalau menggunakan kereta Bogor – Stasiun Kota, sering kali jadi jantungan, deg-degan antara bisa masuk kereta apa enggak. Selama setelah lebaran, kereta makin sesak dan pintu CL (Commuter Line) semakin banyak yang tidak tertutup saking penuhnya. Akhirnya hal ini disiasati dengan naik kereta yang datang sebelumnya dengan tujuan Tanah Abang, turun di Tebet. Nah kalau sudah sampai Tebet bisa dibilang kereta Bogor – Stasiun Kota lebih longgar karena banyak yang turun di Cawang dan Tebet. Bisa keangkut kereta aja udah syukur, jadi kalau sampai bisa duduk itu adalah keajaiban :D .

Pulang kerja kembali berlari-lari supaya bisa ikut kereta jam setengah lima sore. Kebijakan PT KAI yang tidak menghentikan CL di stasiun Gambir sangat memberatkan. Padahal kalo berenti di Gambir, tinggal nyeberang aja udah sampai di kantor :( . Ga heran kalau berat badan saya yang tadinya di kisaran 52-54 Kg, belakangan ini stabil di angka 49 Kg. Continue reading

Kenapa (HI)?

Bulan lalu, saya memposting cerita tentang hadiah ulang tahun yang saya berikan untuk …diri saya sendiri :D . Tanggal 20 Mei 2012  datanglah pengumuman yang ditunggu-tunggu. I got the chance untuk kembali ke bangku perkulihan. Senang? Tentu! Daftar ulang juga sudah selesai dilaksanakan tanggal 14 Juni 2012 kemarin.

Selanjutnya, banyak komentar dan pertanyaan yang muncul dari orang-orang yang saya temui dan mengetahui keputusan saya untuk melanjutkan kuliah sebagaimana yang akan saya tuliskan berikut.

Kenapa kuliah lagi? Toh dari perusahaan tidak ada penyetaraan kenaikan golongan upah setelah lulus S2.

Tujuan saya kuliah lagi memang bukan untuk hal itu. Jadi ada atau tidaknya kenaikan tersebut, saya tetap akan melanjutkan pendidikan. Mungkin sebelumnya pernah saya tuliskan bahwa di perusahaan tempat saya bekerja saat ini, ada ikatan dinas 4 tahun yang harus saya penuhi. Saya juga ingin mengisi waktu 4 tahun itu dengan baik.

Biaya kuliahnya mahal..

Sudah menjadi kesepakatan bersama (rasanya) kalau biaya pendidikan akan semakin mahal setiap tahunnya. Apakah di Indonesia pendidikan dikategorikan sebagai investasi selayaknya rumah dan tanah? Harganya akan terus meningkat dan tidak pernah turun :p. Maka semakin ditunda, akan semakin besar juga gap biaya yang harus dipenuhi di tahun berikutnya. Intinya, semakin ditunda semakin menyesakkan kantong :D . Continue reading

Karena Hidup adalah Tentang Apa yang Kita Putuskan

Ada yang bilang kalau hidup adalah pilihan, menurut saya hidup adalah keputusan. Entah itu keputusan kecil (yang sekedar mau makan siang atau hadir di suatu acara) atau keputusan besar, semua yang diputuskan akan membawa kepada alur takdir yang berbeda. Semakin bertambah usia, semakin banyak pula keputusan yang perlu dibuat, yang sulit ataupun yang mudah.

Bulan lalu, saya memberi kado sebagai hadiah ulang tahun kepada…..diri saya sendiri *kok melas gitu kalo dibaca* berupa “tiket masuk” ke sebuah universitas untuk melanjutkan pendidikan (bisa dibaca di sini). Hasil tesnya diumumkan pada tanggal 20 Mei 2012 kemarin, ketika saya sedang di Belitung. Saat itu teman sekamar saya @magicaelly dan @LuluMaeez di tengah malam buta membuat keributan di kamar karena mereka mau menonton final Liga Champion. Saya kemudian ikut terbangun, bukan untuk menonton final tetapi untuk melihat pengumuman. Deg-degan. Diterima ataupun tidak, saya tetap deg-degan karena ada konsekuensinya masing-masing. Alhamdulillah saya diterima ^^.

Continue reading

Karena Pendidikan Adalah Hal Yang Istimewa (2)

Melanjutkan cerita sebelumnya. Sebenarnya, ada rasa enggan untuk menuliskan cerita demi cerita Karena Pendidikan Adalah Hal Yang Istimewa ini. Saya enggan untuk membuka kembali ingatan saya akan masa-masa itu. Tapi saya tidak ingin lupa akan apa yang telah dilakukan oleh orang tua saya, apa yang telah berhasil kami lewati bersama. Mungkin suatu saat anak-anak atau keponakan saya akan membaca halaman ini dan lebih mengenal kakek neneknya, belajar memaknai sebuah perjuangan dan mensyukuri apa yang mereka dapatkan.

Setelah saya menerima ijazah SD, dan secara resmi menyelesaikan pendidikan dasar saya di Singkawang (SDN 18 Pasiran, Singkawang), saya dan keluarga kembali ke kampung halaman, ke sebuah desa kecil yang terletak di bawah keagungan Gunung Kelud yang masyur itu. Terlalu sedihkah atau terlalu hilang harapan bahwa kami nantinya masih memiliki kesempatan untuk bertemu lagi, yang membuat saya urung menyampaikan kata perpisahan kepada teman-teman saat itu, saya pun sudah lupa.

Ketika kembali ke Jawa, kakak kedua saya masuk ke SMA bersamaan dengan saya yang masuk SMP, sementara kakak pertama saya naik ke kelas 2 SMA. Bapak dan ibu memutuskan untuk menggunakan uang yang selama ini mereka kumpulkan untuk biaya sekolah kami, anak-anaknya, dan modal usaha bapak. Rumah yang sudah tua, yang dibeli mereka sejak saya belum lahir, diabaikan keperluan renovasinya.

Ketika hujan deras, tak jarang ibu sibuk mencari baskom atau apapun yang bisa menampung air hujan yang masuk dari celah-celah genteng rumah. Jangankan air hujan yang masuk melalui genteng, rumah kebanjiran karena tanahnya yang lebih rendah dari jalan raya di depan rumah juga pernah saya alami. Sehingga ketika tetangga tidur lelap karena udara dingin hujan di malam buta, saya dan ibu (karena hanya kami berdua saja yang di rumah saat itu) harus terbangun dan membereskan banyak hal. Ternyata keluarga yang menyewa rumah kami selama kami tinggalkan, tidak merawatnya dengan baik. Continue reading

Pintu

Mungkin pada jalan-jalan sepi, yang acap kali menemani, adalah jalan yang saya pilih. Jalan yang menjanjikan kebebasan tanpa pesan basa-basi, yang seharusnya tidak perlu disisakan padanya tempat istimewa di kepala, apalagi di hati. Tidak sama sekali.

Tidak, saya tidak membenci mereka yang telah memilih pintu ini untuk diketuk dan didatangi. Tetapi bukankah saya juga memiliki hak untuk memilih? Berlari menggapai atau sekedar mengabaikannya.

Mungkin, saya memerlukan ketukan dari mereka yang telah selesai dengan dirinya. Mereka yang menyadari bahwa hidup kami bukan hanya saya dan dia, bukan hanya rumah, mobil dan segala sisanya.

Jadi, tunggu apa lagi? Jangan membuang waktumu di sini!

Karena Pendidikan Adalah Hal Yang Istimewa (1)

Saya ingin bercerita tentang masa kecil dan masa-masa saya memperjuangkan keinginan untuk mendapatkan pendidikan. Maybe I am nothing, but I hope my writing can bring something..

Ketika dipikir ulang, sepertinya saya sudah terbiasa dengan bekerja keras untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Ketika kecil, saya ikut bersama kedua orang tua saya untuk tinggal di manapun bapak ditugaskan. Bapak adalah seorang karyawan swasta yang menguasai alat-alat lapangan, gampangnya katakanlah bapak seorang teknisi atau operator.

Bapak hanya lulusan STM. Tapi yang saya salutkan dari beliau adalah semasa mudanya bapak sudah pernah merantau sampai ke jazirah Arab dan memiliki anak buah WNA yang juga merantau di sana. Foto-foto bapak semasa muda, berdiri di depan pesawat, mobil dengan plat negara-negara Arab, di dalam kapal atau sekedar hang out bersama teman-temannya masih tersimpan rapi di rumah. Hal ini sebagai bukti masa-masa “kejayaan”nya. Kalung emas yang bapak beli dulu sampai sekarang juga masih saya pakai. Ketika kami kesulitan uang, Ibu pun enggan untuk menjualnya, “sayang, untuk kenang-kenangan” katanya.

Setelah menikah, ibu tidak berkenan jika bapak merantau jauh ke luar negeri. Alasannya? Ibu seorang wanita, dan saya juga. Mungkin saya tidak perlu menanyakannya :) . Meskipun janji akan limpahan materi ada di depan mata saat itu, tapi orang tua saya memilih pilihan lain, yakni tetap bekerja di Indonesia. Seingat saya, dan dari beberapa cerita yang pernah ibu sampaikan, sejak saya lahir kami sudah berpindah-pindah mulai dari Cilacap, Pangkal Pinang, Bangka, hingga ke Monterado. Continue reading

Sign?

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. – Paulo Coelho

Pernahkan memiliki keinginan atas sesuatu? Membayangkannya terwujud rasanya akan enlighten the way. Jadi ketika kamu sedang menginginkan sesuatu, ke manapun pandanganmu beralih, kamu merasa selalu diingatkan akan keinginan tersebut. Pernah nggak?

Jadi ceritanya saya sedang memiliki sebuah keinginan. Untuk mencapai keinginan tersebut, ada beberapa step yang harus saya lalui. First step nya ada di depan mata. Nah belakangan, sejak saya tahu bahwa saya harus memutuskan untuk mengambil first step tersebut, saya merasakan banyak hal yang kebetulan terlihat oleh mata dan mengingatkan saya akan hal ini.

Entah buku yang saya baca (padahal saya membaca banyak buku yang berbeda, setidaknya yang saya ingat ada tiga buku. Di ketiga buku tersebut menyebutkan hal yang mengacu pada si first step dan keinginan saya), telpon yang saya dapatkan, stiker, dan masih banyak hal lain yang mengingatkan saya. Jika memang ini adalah pertanda, semoga pertanda baik dariNya.

Yasudahlah, kita lihat saja nanti :) .

Live This Month To The Fullest

I warn you, maybe you’ll read a random post about my thought, or things I do with my life.

First, thank you for keep reading. No matter who you are, with purpose or not by dropping your self here, and even though you’re totally stranger who spend your leisure because don’t have any better idea to fill it with.

Some say that you should write something, because when you die you’ll leave nothing to be remembered. Or, at least with humility by your writing, you’ll give lesson learned for somebody else. So, keep writing!

#1. Gift for me

This year, I gave myself as a birthday gift a passport to catch my dream. Either I pass the test or not, at least I give my shot to make it happen. Wish me luck, wish me luck :) .

About the test, my dad is the one who was very excited on this. Maybe he doesn’t know what kind of “pain in the ass” that I will have if I pass it :D . I hope I can pass it, and if I don’t (maybe) I’ll try on the next semester.

oke, kembali ke bahasa ibu saja :p

Jadi ceritanya, hari sabtu lalu saya harus pergi ke Kampus UI Depok untuk melakukan survey lapangan lokasi ujian. Hari itu pertama kalinya saya naik Commuter Line, jadi ya ndeso gitu deh. Berangkat ke Depok, saya ditemani seorang teman. Tapi dia tidak bisa menemani saya ke UI. Alhasil, saya turun di Stasiun UI dan mengandalkan tukang ojek yang pastinya menguasai lapangan :D .

Saya diantarkan ke Fakultas Teknik di mana lokasi ujian berada. Selanjutnya, dengan menanyakan kepada satpam di sana saya akhirnya menemukan Gedung K ruang K 207 dengan selamat. Melihat lokasi ujian pada H-1 memang sangat disarankan, karena ujian pada tanggal 15 April kemarin dilaksanakan pada jam 07.00 sehingga bisa langsung menuju TKP yang tepat tanpa membuang waktu *yang seharusnya saya bisa berleha-leha bangun siang di weekend >.<*.

Setelah selesai, saya menunggu @magicaelly di Starbucks Margo City demi mendapatkan tempat penampungan untuk bermalam. Thanks to her, karena sudah bersedia bangun di minggu pagi untuk mengantarkan saya ke UI juga *terharu*. Pada hari yang sama, saya juga menghadiri (separuh acara) talk show oleh Asma Nadia & Helvy Tiana Rosa dan Muhammad Assad. Finally, bisa melihat penampakan Assad live :D .

Perfect Match

Assad :)

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 237 other followers