Category Archives: Fun

Buku, Buku, Buku….

Beberapa hari yang lalu saya membulatkan tekad untuk mengunjungi dokter mata. Selain untuk memeriksakan mata yang terasa mulai kabur dengan kacamata yang sedang saya pakai saat itu, saya juga bermaksud untuk memanfaatkan jatah claim kacamata dari asuransi kantor yang nominalnya cukup lumayan.

Setelah memeriksakan mata di RS Aini, ternyata oh ternyata, dengan berbesar hati saya menerima hasil dari sang dokter bahwa minus mata saya bertambah. Kali ini, jumlah pertambahannya bisa dibilang cukup banyak (kurang lebih 0,5 untuk setiap mata) *nangis meminta maaf pada mata*. Sekarang mata saya berminus 3,25 dan 3.

Setelah dipikir-pikir, mungkin ini diakibatkan oleh semakin meningkatnya kecanduan saya untuk membaca buku. Sering kali belakangan saya memanfaatkan weekend dan menargetkan untuk menyelesaikan membaca setidaknya satu buah buku. Dimulai dari jumat malam (kalau tidak berkebutuhan tidur awal karena sakit), saya akan mulai begadang untuk membaca atau menulis. Terkadang saya tidur setelah jam tiga dini hari, dan akan melanjutkan membaca setelah tidur.

Rasanya….ada kepuasan yang sulit untuk diucapkan setiap kali menyelesaikan membaca sebuah buku setiap weekend. Dari buku yang saya pilih, selalu ada pengalaman imajinatif yang menguatkan, informasi yang mengayakan, traveling baik jiwa maupun pikiran. Setiap menyelesaikannya, rasanya saya siap menghadapi hari senin dengan semangat baru. Saya lebih rela untuk menghabiskan weekend untuk membaca daripada nonton film di bioskop (karena tiket weekend harganya mahal, dan lebih senang nonton ketika weekdays :p).

Sekarang saya sedang menyelesaikan Berjalan Menembus Batas (buku yang saya peroleh dari talk show Kick Andy pada peringatan Hari Kartini di kantor) dan Travelers Tales Belok Kanan: Barcelona! (yang saya pinjam dari perpustakaan kantor).

Dan akhirnya, SAYA INGIN JALAN-JALAAAAAAAN!

Not Ordinary Weekend

Beberapa minggu belakangan, saya tengah menikmati melakukan hal-hal di luar kebiasaan ketika mengisi weekend atau liburan. Biasanya kalau liburan bakalan mengunjungi mall (untuk sekedar makan, ke toko buku, atau nonton) atau cafe untuk bekerja. Dalam rangka penghematan, liburan tidak membeli tiket pulang atau pelesir dan meminimalisir nge-mall, jadi saya (dan kadang dibuntutin oleh @neng_rizka :p) melakukan hal-hal baru. Selain untuk coloring my days, kegiatan seperti ini juga akan menambah pengalaman dan kalimat “…oooh ada toh…” atau “ealah, di sini toh tempatnya” yang bakal keluar dari mulut kami.

Trigger dari hal ini adalah untuk menikmati weekend, get a life. Sebelumnya saya sering menyelesaikan (menyicil menyelesaikan tepatnya) pekerjaan yang tidak terselesaikan di kantor. Setiap weekend kok masih dihantui pekerjaan, mau mengerjakan hal lain saja masih terasa dihantui. Padahal ketika itu saya sudah melebihkan waktu kerja (baca: lembur aka melakukan kegiatan sosial karena memang tidak berbayar :D ) dan ketika jam kerja juga tidak chatting bahkan browsing untuk hal di luar pekerjaan. Saya sudah sangat jarang menulis, membaca buku atau blog walking. Dan ketika saya pikir-pikir lagi, kok saya mulai tidak memiliki life balance. And at the time I decided I have to go home on time or as soon as possible and enjoy the weekend. I don’t want to be a machine.

Menurut saya, rutinitas pekerjaan, dan ketika saya tenggelam di arusnya, akan membuat saya kehilangan esensi dan rasa excited dari bekerja itu sendiri. Saya sudah merasakan malasnya berangkat ke kantor, karena mungkin merasa terlalu monoton dan tidak seimbangnya aktivitas otak kiri dan kanan saya. Working is not merely about getting money. Pekerjaan yang menarik adalah yang bisa membuat saya bersemangat ketika bangun pagi, menikmati ketika mengerjakannya, dan ketika jam pulang saya akan mengatakan “..cepet amat udah sore”. Namun ketika saya tidak merasakan hal tersebut, saya merasa perlu untuk mengkaji ulang apa yang saya lakukan. Pekerjaan, menurut saya, seharusnya hanya memakan sebagian porsi dari kehidupan. Sisanya masih ada ibadah, keluarga, hobi, passion, cita-cita dan lain-lain. Penghasilan yang didapat dari pekerjaan-lah yang digunakan sebagai alat untuk memenuhinya.

Okay, cukup intermezzo dan curcolnya :D

Pada postingan kali ini saya akan menceritakan sedikit tempat atau kegiatan yang saya lakukan. Beberapa di antaranya sempat didokumentasikan melalui kamera hp saya. Enjoy :)

TransJakarta Tour

Karena kami (saya dan @neng_rizka) sepakat untuk menghindari mall, jadi kami memutuskan untuk melakukan tour dengan menggunakan Transjakarta. Ngapain itu? Ya mengelilingi Jakarta dengan menggunakan TransJakarta. Total damage-nya tidak lebih dari Rp 20000. Mungkin ada yang bakal bilang kami ini kurang  kerjaan, but we enjoyed it! Jadi duduk atau berdiri aja di dalam TJ dan melihat Jakarta ^^.

Peta jalur TransJakarta

Museum Tour

Selain untuk mencicil pelajaran sejarah, kanjungan ke museum ini bertujuan untuk mengambil pelajaran dari apapun yang disajikannya. Museum yang sempat kami kunjungi adalah Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia dan Museum Fatahillah. Ketiganya berada di Kota Tua. Continue reading

Berlangganan TV Cable

Setelah mendapatkan tv gratis dari kantor, saya mulai memikirkan untuk berlangganan tv cable. Sayang juga kalau tv nya nganggur. Dikarenakan banyak pilihan untuk provider tv cable ini, jadi saya mengumpulkan informasi dengan bertanya ke beberapa teman dan tentu saja membaca di internet. Kata teman yang duduk di sebelah saya di kantor, mendingan saya mencari provider yang menyediakan layanan channel HD untuk mendapatkan pilihan tontonan yang memuaskan karena tv saya juga support HD. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi pelanggan First Media.

Awalnya saya membuka web First Media dan memasukkan alamat kos pada Coverage Area untuk melihat apakah First Media sudah menjangkau daerah kosan saya. Dan ternyata sudah. Namun ketika saya menghubungi CS-nya, si mbaknya mengatakan kalau sekitar kosan saya belum dicover oleh jaringan First Media. Jelas saja saya tidak percaya! La wong di webnya saja sudah mengatakan demikian.

Saya, yang benci pada penolakan, malam harinya menghubungi CS First Media. Kenapa kok malam? Karena saya yakin petugas CS nya sudah berganti shift sehingga saya tidak perlu sungkan untuk memastikan apakah saya bisa berlangganan tv cable FM (lagi). Voila, masnya bilang bisa :D .

Continue reading

Desember 2011 dan Berkahnya

Terhitung Mulai Tanggal (TMT) 1 Desember 2011 ini saya resmi diangkat menjadi pekerja di kantor saya setelah 1 tahun sebelumnya saja menjalani berbagai macam tahapan pendidikan. Rasanya? Lega! Akhirnya kalau ditanya orang saya bekerja di mana, saya bisa memberikan jawaban pasti “Pertamina” :D .

Transformasi ID Card

Dengan bergantinya status dari peserta pendidikan menjadi pekerja, maka saya juga mendapatkan perlengkapan seperti seragam, syal, ID Card dan juga harus mengisi berlembar-lembar form baik untuk data perusahaan maupun fasilitas seperti Corporate Card (credit card untuk pekerja), asuransi kesehatan, Dana Pensiun Lembaga Keuangan, Jamsostek, NPWP, dll. Continue reading

Friends Are The Siblings God Never Gave Us

Feels like home mungkin deskripsi perasaan saya ketika berada di kantor. Ya bukan berarti bisa tidur-tiduran gulung sana sini juga, cuma betah aja so far. Kurang lebih sudah 7,5 bulan saya OJT di kantor ini, dan 10,5 bulan saya menjalani masa pendidikan dari total 12 bulan (dipotong 1 minggu untuk libur pendidikan).

Awal masa menghadapi OJT saya mengalami keparnoan to the max, membayangkan situasi kerja yang masih absurd dan yang pasti akan berbeda dengan kultur di kantor saya sebelumnya, bagaimana kalau saya tidak bisa mengikuti ritme kerja, susah menyesuaikan diri dsb. Ternyata lagi-lagi God knows us well :) *yaeyalah*. Masa-masa ini saya merasakan:

The future is scary but you can’t just run back to the past because it’s familiar. Yes it’s tempting, but it’s a mistake – HIMYM

God gives me best partners and seniors, ya meskipun saya dibully secara lisan dulu :p. Tidak hanya urusan pekerjaan saja, kami juga berteman dalam hal berburu makanan.

Posisi meja di kantor itu berhadap-hadapan dengan pembatas rendah, ada untung dan ruginya sih. Keuntungannya akan lebih memudahkan untuk berkomunikasi, membajak makanan, pinjam telpon kantor, dan ceng-cengan. Kerugiannya ya bakal eneg ngeliat yang duduk di depan kita :p. Kebetulan satu booth saya itu berisi 4 orang, sisa lajang di dalam tim. Untuk lebih memudahkan, saya perkenalkan ketiga rekan kerja dan teman saya. Continue reading

French or Deutsch?

Sungkem-sungkem dulu sama yang baca deh sebelum posting. Mohon maaf lahir batin ya teman-teman, walau pun memang agak telat tapi kan ini masih bulan Syawal *maksa*.

Sudah lama ingin cerita ini itu di sini, tapi kalau memang tidak diiringi niat yang kuat ya tidak akan terwujud. How’s life? I hope it is as colorful as rainbow. Eh udah September ya, alhamdulillah, masa OJT tinggal 2 bulan lagi insya Allah *kayang kegirangan*. Hari ini saya juga menerima hasil penilaian periode ketiga dari asisten manager saya, senang karena nilainya meningkat. Final paper saya (Kertas Kerja Wajib) juga bisa dikatakan 80% selesai, semoga tidak ada revisi yang mengkhawatirkan ketenangan saya dalam menonton drama korea #salahfokus.

Bagaimana dengan mudik kalian? Mudik saya kemarin seperti tur antar kota antar propinsi: Jakarta – Jogja – Kediri – Nganjuk – Mojokerto – Pare – Kediri – Jogja – Jakarta. Walaupun melelahkan, tapi menyenangkan sekali rasanya berkumpul dengan keluarga dan bermain dengan keponakan baru saya. Waktu berkumpul dengan keluarga, kakak saya yang mendapat giliran untuk dijodoh-jodohkan :p. Lalu saya bertanya ke bapak, kok saya nggak sekalian. Habis ngobrol sana sini, obrolan kami menyimpulkan profesi pria dengan penghasilannya. Kata bapak, profesi yang sekarang bisa memiliki penghasilan tinggi adalah *jeng jeng jeng* pemain bola :lol: .

Tadi siang saya mendapat komen dari pembaca yang nyasar ke blog ini. Menyenangkan sekali rasanya membaca komen tersebut, sampai-sampai bisa mengalahkan rasa malas saya untuk memposting sesuatu di sini. Beberapa waktu lalu saya memang sempat galau *halah* karena waktu kelulusan semakin dekat. Jika sudah selesai masa pendidikan ini, saya ingin kembali ke bangku perkursusan bahasa. Akhir tahun lalu saya mangkir dari ujian kenaikan tingkat di CCF dikarenakan saya harus masuk asrama dan dikirim ke belantara Cibodas. Dan, saya menyadari satu hal: les bahasa prancis itu ngangenin, tanpa mempedulikan seberapa begonya saya di kelas.

Kata si mas:

Bonjour,
votre niveau de français est très honorable.
Je vous suggère de voir le film d’Amélie Poulain ou de “bienvenue chez les chti” qui sont des grands succès internationaux.
En lecture, les auteurs classiques ne manquent pas, c’est facile de trouver ce qu’il vous plait sur l’Internet.

Bon courage pour la suite.

Philippe

Intinya kemampuan bahasa prancis saya very honorable :”>. Kasihan, masnya nggak tahu kalau saya menggunakan bantuan google translate saat menulis posting dalam bahasa prancis. Tadinya saya berencana untuk berpaling ke Gothe, karena saya merasa perlu belajar bahasa jerman dengan alasan yang tidak perlu saya tuliskan di sini. Tapi karena kerinduan saya untuk belajar bahasa prancis dan komentar di atas, membuat saya menjadi galau. 

Yang mana sebenarnya yang harus dipilih? Apakah yang kita sukai atau yang kita butuhkan? French or Deutsch? Ya sudahlah akan saya pikirkan lagi, sekarang waktunya menghadapi kenyataan: meneruskan mengerjakan KKW :p.

 

What Did You Do on Saturday?

At my previous working place, my manager asked about our activities on weekend often. Suddenly, in the middle of my idle time, I remembered about that again. I would have an easy answer for him if he asked me about this on next Monday :p.

I woke up late this morning. My body works on this automatically. On weekdays, I wake up before 5 am and this thing will not happen on weekend. Then, I put together my passion for bathing, but chose to have breakfast first. Took a bath, played angry birds, worked on my side job and those steps were repeated until evening :) ).

This thing reminds me about my talk with my friend yesterday.

fitri : kerjaanku baru kelar 4 masih kurang 16 ebuset
rizka : sabtu minggu hmm besok target brp? :D 
fitri : kelaaaaar
rizka : hihihi seharian brarti?
fitri : iya keknya hahaha suram
rizka : hooh
fitri : ini aja wes ketap ketip
rizka : pantesan kamu awet jomblo #digampar :lol: 
fitri : :lol: 
rizka : padahal lho bayangken daerah setia budi
fitri : jomblo karir
rizka : tempat banyak esmud keren2 :D 
fitri : :lol: 
fitri : tak nang anomali wes
rizka : disini mah buruh pabrik semua gada esmud :lol: 

Have a nice weekend, all :) . Holiday comes to those who wait :lol: .

So Be Careful With What You Wish For

It has been nearly two weeks since my last post here. I think if this blog is really a house, it would be a house full of cobwebs. So, how’s thing going? Pretty well? Good then, I am happy to hear from you again ;) . Lately I was being terribly busy with my jobs. It haunted me all day and night long, till I didn’t get proper time to sleep and got sick. But I am getting better right now.

To make it related with the title, I’d like to share my experiences about my words that were granted by God.

“So be careful what you wish for,cause you just might get it and not know what to do wit’ it. Cause it might just come back on you ten-fold” eminem.

Sometimes me and my closest friends are making jokes by talking about people who stole our attentions and we called them “our living caffeine”. We don’t mean anything but adoring some parts of them that are used in a good way, such as their brilliant brain and inner beauty.

In short, I ever said “What if God gives me 24 hours to be spent with the person?”, without thinking much. And voila, I had to spend my time in a day, since morning till evening with the person but not in a “nice way”. Maybe another day, I will say in specific sentences how the togetherness should be spent #gakapok.

I also ever asked about a side job, so I can fill my time productively. And it happened, I got my wish until I couldn’t handle it and got sick. So, I said to my client that I can’t take the next job which has tight schedule because I was not in a possible way to continue the work.

I’ve warned you, be careful then ;) . Continue reading

(Don’t be) Jealous

It has been a week since my last post, and somehow I didn’t have something good to share until I found these videos. Watch and (don’t) be jealous ;) .

 

If I were a boy :p

Buried

Jadi ceritanya saya yang fakir bandwidth ini, merasa riang gembira setelah menemukan shared folder di kantor yang berisi film.

Lhoh, ini kan hari sabtu, kok ke kantor? | Iya, saya juga kaget waktu diberitahu kalau hari ini harus ke kantor jam 7 pagi sampai sore, untuk melakukan UAT di switch over system. Dan setelah opening meeting, saya menyadari bahwa tidak ada perempuan di sana selain saya -___-. I think I must get used to this and I think they are nice.

Sebenarnya porsi pekerjaan saya itu tidak banyak. Tapi karena saya baru bisa bekerja setelah menunggu bagian-bagian lain menyelesaikan pekerjaannya, dan sudah terlanjur membatalkan rencana pemalakan masal ke Pancious Pancake, jadilah saya mati gaya di kantor *sigh*.

Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan mas ini soal film dan dia bilang kalau dia tidak berani menonton Buried dengan alasan phobia. Jadilah saya penasaran, dan voila hihi ternyata ada di shared folder. Sampai di kos, saya mematikan lampu dan mulai menonton dengan menggunakan speaker biar efek suaranya lebih terasa.

This slideshow requires JavaScript.

Kesan pertama: masnya ganteng :D . Lalu saya bertanya-tanya berapakah budget pembuatan film ini karena aktor yang tampak secara nyata di layar laptop saya bisa dihitung dengan jari tangan kanan atau kiri saja, tidak dengan keduanya. Atau ditambah 1 deh kalau ular termasuk hitungan aktor.

Over all I think this movie is good enough, meskipun saya penyuka film action sejenis Jason Bourne. Dan ini? Masnya hanya bergerak-gerak secara tidak dinamis dan tidak beraturan di sebuah peti yang dikubur. Film ini menceritakan seorang supir truk berkewarganegaraan Amerika Serikat yang bekerja di sebuah perusahaan Amerika juga. Dia ditugaskan ke Iraq dan truknya dilempari batu oleh anak-anak kecil di sana. Ketika dia sadar, dia sudah berada dalam sebuah peti.

The film revolves around Iraq-based American truck driver Paul Conroy (Reynolds), who, after being attacked, finds himself buried alive in a wooden coffin, with only a lighter, flask, flash light, knife, glowsticks and a mobile phone to help him escape before the oxygen in the coffin runs out. wikipedia

Monggo ditonton saja, daripada saya dilempari batu oleh teman-teman anti-spoiler :D .

Inti dari postingan ini adalah pergi ke kantor di hari sabtu isn’t not that bad, selain untuk belajar, menambah kenalan, menambah pengalaman dan perbaikan gizi (tentunya), juga bisa menambah koleksi film ;) .

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 237 other followers