Kamu

Ini adalah hasil berestafet di minggu pagi bersama Agnes, enjoy ;) .

Hanya perlu 43 hari untukku kecanduan merasa rindu padamu, dari hari pertama kedatanganmu bertamu pada hari-hariku. Bukan cuma sulit untuk tidak kugubris, rasa rindu itu melekat seperti bayangan yang memeluk erat. Halusinasi kebodohan dikarenakan oleh “jatuh hati” mulai melanda, aku sering melihat orang yang mirip kamu, dan semua hal yang aku sentuh secara kebetulan berhubungan denganmu, makanan favoritemu, buku favoritemu, warna favoritemu, mutlak sudah aku terjerat…pada kamu; pria pendiam pemilik senyuman rupawan.

Berlebihankah jika aku mentahtakanmu as my living caffeine? Well aku bukan pecandu kopi, but yess aku mencandu dirimu. Serupa mereka semua pecinta kopi yang merasa harinya tidak lengkap tanpa kehadiran kopi kesayangan berikut caffeine di dalamnya. Hari mereka sempurna saat sudah menyesap secangkir kopi nikmat dan hariku sempurna saat kamu menyapa.

Kamu adalah coklat yang bisa mengembalikan moodku yang rusak ke garis edarnya semula. Bagaimana bisa kamu melakukannya dengan nyaris sempurna, padahal kita hanya bertatap mata tiga kali jika aku tidak salah menghitungnya? Bagaimana bisa kamu membuat kurva bibirku membentuk senyuman dari balik layar laptopku padahal kita berjarak dan jarang bertemu?

Aku berusaha mencari tahu “apa”, “kenapa” dan berujung pada pertanyaan “lalu bagaimana”. Jujur aku menikmatinya. Setelah sekian lama tidak menikmati sensasi seperti ini dan bahkan sudah mengubur jauh – jauh harapan untuk menikmatinya lagi malah dirimu datang, sepaket dengan tatapan ramah dan pribadi yang menyenangkan. Lagi – lagi aku tersenyum.

Masih ingatkah kamu ketika kita menghabiskan malam melewati jalanan kota? Kamu layaknya bintang yang bersinar paling terang pada malam itu, bahkan cahaya dari lampu jalan terasa seperti pelengkap sinar auramu yang memang sudah terlalu terang di mataku. Aku hanya bisa tersenyum setuju. Aku ingin waktu berhenti saat itu. Hanya kamu, aku, dan jalanan itu.

Jika cinta memang tidak pernah mengetuk pada pintu yang salah, bolehkah aku berharap bahwa kali ini pintu itu akan terbuka? Aku berharap kali ini ketukan di pintu hatiku adalah cinta yang sebenarnya.

Sesungguhnya aku hampir lupa apakah kamu mengetuk dulu atau malah kamu masuk begitu saja tanpa permisi? Rasanya semua tidak terasa penting lagi, kehadiranmu tak pernah kusesali.


About these ads

Tagged:

8 thoughts on “Kamu

  1. dindun March 13, 2011 at 9:48 am Reply

    wow… love this post monster pipi *cubit2pipiny mpit

    • fitri March 13, 2011 at 8:33 pm Reply

      hihi merci mbak din ^^

  2. elly March 14, 2011 at 9:01 am Reply

    grakgrkagrakgrak sii ? =)) keseringan baca kata “candu” di sini.. entah kenapa di pala kok yaa thomas djorghi ma goyangan gejenya -_-”

    aahhh aku rindu rasa2 seperti itu…. but for now… maybe it’s just the coffee i’ll candu for =))

    • fitri March 14, 2011 at 11:48 am Reply

      kamfreeeet :lol: , kenapa kok ya uda dipuji ma mbak din malah kau dangdutkan >.<
      Hihih, dinikmati aja caffeinnya, kadang suka kangen kalo ga "ngopi"

    • Tiar Indah March 14, 2011 at 11:53 am Reply

      wakakakakakaka.. thanks to you, li. aku juga jadi inget tomas djorghi.

      bagus pit. ^^

      • fitri March 14, 2011 at 12:05 pm

        keliatan kan yang suka dangdut tu sapa :lol:

        Anyway makasih mbak ti ;)

  3. uul March 15, 2011 at 8:45 am Reply

    aww..aww..aww…
    canduuu…canduu asmaraa :) )

    sukaa ceritanya euyy ^^

    • fitri March 15, 2011 at 12:25 pm Reply

      hihi makasii bumil ^^. Smoga bebi mu selucu akuuu *ada yang ga trima* :lol:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 237 other followers

%d bloggers like this: